Sunday, July 9, 2017

Blended Learning??? Kelebihan dan Kekurangannya!

Salah satu hal yang menarik dengan penerapan model pembelajaran kombinasi (blended learning) adalah tercapainya tujuan pembelajaran secara efisien dan efektif karena kedua model memiliki keunggulan masing-masing. Model pembelajaran tatap muka dengan metode konvensional memungkinkan pembelajaran berlangsung secara interaktif dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi serta metode pembelajaran sedangkan dengan metode online dapat memberikan materi secara online tanpa batasan ruang dan waktu, selain itu peserta didik lebih banyak memperoleh dan mengolah informasi dari berbagai sumber sehingga hal ini dapat menunjang proses pembelajaran.]

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa blended learning lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dengan sistem tatap muka maupung dengan sistem e-learning atau pembelajaran online. Tingkat efektifitas tersebut ditunjang dengan kelebihan yang dimiliki oleh pembelajaran dengan sistem pembauran (blended learning), sebagai berikut:

  1. Penyampaian pembelajaran dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja dengan memanfaatkan sistem jaringan internet.
  2. Peserta didik memiliki keleluasan untuk mempelajari materi atau bahan ajar secara mandiri dengan memanfaatkan bahan ajar yang tersimpan secara online.
  3. Kegiatan diskusi berlangsung secara online/offline dan berlangsung diluar jam pelajaran, kegiatan diskusi berlangsung baik antara peserta didik dengan guru maupun antara antar peserta didik itu sendiri.
  4. Pengajar dapat mengelola dan mengontrol pembelajaran yang dilakukan siswa diluar jam pelajaran peserta didik.
  5. Pengajar dapat meminta kepada peserta didik untuk mengkaji materi pelajaran sebelum pembelajaran tatap muka berlangsung dengan menyiapkan tugas-tugas pendukung.
  6. Target pencapaian materi-materi ajar dapat dicapai sesaui dengan target yang ditetapkan
  7. Pembelajaran menjadi luwes dan tidak kaku
Tentunya, pembelajaran dengan konsep kombinasi/pembauran selain memiliki kelebihan-kelebihan di atas juga memiliki kekurangan-kekurangan, antara lain:
  1. Pengajar perlu memiliki keterampilan dalam menyelenggarakan e-learning
  2. Pengajar perlu menyiapkan waktu untuk  mengembangkan dan mengelola pembelajaran sistem e-learning, seperti mengembangkan materi, menyiapkan assesment, melakukan penilaian, serta menjawab atau memberikan pernyataan pada forum yang disampaikan oleh peserta didik.
  3. Pengajar perlu menyiapkan referensi digital sebagai acuan peserta didik dan referensi digital yang terintegrasi dengan pembelajaran tatap muka
  4. Tidak meratanya sarana dan prasarana pendukung dan rendahnya pemahaman tentang teknologi.
  5. Diperluken strategi pembelajaran oleh pengajar untuk memaksimalkan potensi blended learning.
Potensi penerapan pembelajaran dengan sistem blended learning sangat memungkinkan untuk dilaksanakan, ini seiring dengan berkembangan teknologi informasi dan komunikasi bagi dari segi menjamurnya aplikasi pendukung juga disertai dengan meratanya pemanfaatan teknologi tersebut bagi masyarakat, sehingga kekurangan-kekurangan seperti yang disebutkan di atas dapat diatasi dengan adanya kemauan yang besar dari pengajar.

Monday, August 31, 2015

Friday, March 6, 2015

Konsep Pendidikan Abad 21 [Bag 1]

Dewasa ini terjadi perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat sebagai salah satu akibat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan pemanfaatannya oleh manusia. Khusus dalam dunia pendidikan dampaknya sangat terasa saat ini dan kedepan, sehingga orang menyebutnya sebagai masa pengetahuan (knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa. Percepatan peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan teknologi digital yang disebut dengan information super highway (Gates, 1996), informasi semakin cepat terdistribusi ke seluruh penjuru dunia.

Akibatnya, dunia pendidikan semakin penting dan dituntut untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills).

Tuntutan tersebut diimplementasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk mengembangkan kurikulum baru untuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan mengadaptasi konsep pendidikan abad 21.  Ketiga konsep tersebut adalah 21st Century Skills, scientific approach, dan authentic assesment (BSNP, 44:2004)

Konsep Pertama: Keterampilan dan Pengetahuan Abad 21 (21st Century Skills)
Skema ini menyajikan pandangan menyeluruh tentang keterampilan dan pengetahuan peserta didik abad ke-21. Ada tiga subjek inti pendidikan abad 21, yaitu: 1) Life and Career Skills, 2) Learning and innovations Skills – 4Cs, 3) Information, Median and Technologi Skills.

Gambar 1. Skema Keterampilan - Pengatahuan Abad 21
1. Life and Career Skills
Life and Career skills (keterampilan hidup dan berkarir), meliputi:
  1. Fleksibilitas dan adaptabilitas: Peserta didik memiliki kemampuan mengadaptasi perubahan dan fleksibel dalam belajar dan berkegiatan dalam kelompok
  2. Memiliki inisiatif dan dapat mengatur diri sendiri: Peserta didik memiliki kemampuan mengelola tujuan dan waktu, bekerja secara independen dan menjadi peserta didik yang dapat mengatur diri sendiri.
  3. Interaksi sosial dan antar-budaya: Peserta didik memiliki kemampuan berinteraksi dan bekerja secara efektif dengan kelompok yang beragam.
  4. produktivitas dan akuntabilitas: Peserta didik mampu mengelola projek dan menghasilkan produk.
  5. Kepemimpinan dan tanggungjawab: Peserta didik mampu memimpin teman-temannya dan bertanggungjawab kepada masyarakat luas.
2. Learning and Innovation Skills
Learning and innovation skills (keterampilan belajar dan berinovasi) meliputi:
  1. Berpikir kritis dan mengatasi masalah: peserta didik mampu mengunakan berbagai alasan (reason) seperti induktif atau deduktif untuk berbagai situasi; menggunaan cara berpikir sistem; membuat keputusan dan mengatasi masalah
  2. Komunikasi dan kolaborasi: peserta didik mampu berkomunikasi dengan jelas dan melakukan kolaborasi dengan anggota kelompok lainnya.
  3. Kreativitas dan inovasi: peserta didik mampu berpikir kreatif, bekerja secara kreatif
3. Information Media and Technology Skills
keterampilan teknologi dan media informasi (Information media and technology skills), meliputi:
  1. Literasi informasi: peserta didik mampu mengakses informasi secara efektif (sumber nformasi) dan efisien (waktunya); mengevaluasi informasi yang akan digunakan secara kritis dan kompeten; mengunakan dan mengelola informasi secara akurat dan efektf untuk mengatasi masalah.
  2. literasi media: peserta didik mampu memilih dan mengembangkan media yang digunakan untuk berkomunikasi.
  3. Literasi ICT: peserta didik mampu menganalisis media informasi; dan menciptakan media yang sesuai untuk melakukan komunikasi.
Pengembangan pendukung pencapaian pendidikan abad 21 tersebut di atas dikembangan framework seperti pada gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Hasil Pendidikan Abad 21 & Sistem Pendukung
Unsur-unsur yang diuraikan di bawah ini adalah standar yang diperlukan untuk memastikan peserta didik memiliki penguasaan keterampilan – pengetahuan abad ke-21, yaitu:
1) Standarisasi penilaian,
2) kurikulum,
3) Pengembangan profesionalisme pendidik
4) Pembelajaran inovatif

Silahkan baca lanjutan tulisan ini yang mengkaji tentang Pendekatan Saintifik di sini

Monday, March 2, 2015

Pembelajaran Abad 21

Saat ini, pendidikan berada di masa pengetahuan (knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa. Percepatan peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan teknologi digital yang disebut dengan information super highway (Gates, 1996). Sejak internet diperkenalkan di dunia komersial pada awal tahun 1970 an, informasi menjadi semakin cepat terdistribusi ke seluruh penjuru dunia.

Tiga konsep pendidikan abad 21 telah diadaptasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk mengembangkan kurikulum baru untuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ketiga konsep tersebut adalah 21st Century Skills (Trilling dan Fadel, 2009), scientific approach (Dyer, et al., 2009) dan authentic assesment (Wiggins dan McTighe, 2011); Ormiston, 2011; Aitken dan Pungur, 1996; Costa dan Kallick, 1992). Selanjutnya, tiga konsep tersebut diadaptasi untuk mengembangkan pendidikan menuju Indonesia Kreatif tahun 2045. Adaptasi dilakukan untuk mencapai kesesuaian konsep dengan kapasitas peserta didik dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikannya.

Dalam uji publik kurikulum 2013 disebutkan mengenai pergeseran paradigma belajar dengan mempertimbangkan beberapa ciri abad 21 serta penerapan model pembelajaran yang sesuai. Berikut pergeseran paradigma pembelajaran yang tercermin dari ciri-ciri abad 21 dan model pembelajaran yang disesuaikan.

  1. Informasi (kapan dan di mana saja), dalam penerapan pembelajaran di kelas pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik untuk mencari tahu dari berbagai sumber, bukan hanya diberi tahu.
  2. Komputasi (lebih cepat memakai mesin), artinya pelaksanaan pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya) , bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab masalah yang ada)
  3. Otomasi (menjangkau segala pekerjaan rutin), artinya pembelajarahkan untuk mampu berpiikir analitis dalam pengambilan keputusan, bukan berfikir mekanistis (rutin)
  4. Komunikasi (dari mana dan kapan saja), artinya pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.
Dalam mewujudkan kecakapan abad 21 maka diperlukan pula inovasi-inovasi dalam pembelajaran, baik terkait dengan pendekatan, model, media, strategi dan lain-lainnya.

Sunday, February 1, 2015

Konsep Blended Learning

Sebelum terlalu jauh kita mengkaji konsep dan bagaimana model penerapan blended learning maka perlunya kita pahami secara bersama-sama bahwa blended learning untuk saat ini masih diperdebatkan bahkan ada yang mengatakan bahwa konsep blended learning sebuah konsep yang tidak berguna dan meragukan khususnya dampaknya terhadap hasil belajar. [Mungkin, perlu menunggu 2 generasi terpotong untuk menerima konsep blended learning dan kemudian dapat diterima]

Konsep Blended Learning merupakan istilah yang baru dan mengikuti perkembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan manusia, blended learning istilah yang berasaln dari bahasa Inggris dan terdiri dari dua suku kata yaitu: blended dan learning. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai pembelajaran kombinasi, pembelajaran gabungan, atau pembelajaran bauran, sehingga blended learning dapat dimaknai sebagai gabungan pembelajaran secara tatap muka dengan secara virtual dengan menggunakan aplikasi TIK.

Semler (2005) mengatakan bahwa : "blended leraning mengombinasikan aspek terbaik dari pembelajaran online, aktivitas tatap muka terstruktur , dan praktik dunia nyata. Sistem pembelejaran online, latihan di kelas, dan pengalaman on-the-job akan memberikan pengalaman berharga  bagi diri mereka. Blended learning menggunakan pendekatan yang memberdayakan berbagai sumber informasi yang lain".

Berdasarkan ungkapan Semler maka blended learning dapat diaplikasikan kedalam pelaksanaan pembelajaran dengan dua model pembelajaran, yaitu:

  1. Peningkatan aktivitas tatap muka (face-to-face), bentuk pertama ini dilaksanakan dalam model tatap muka akan tetapi terjadi peningkatan aktivitas belajar dan mengajar oleh guru dan siswa dengan memanfaatkan jejaring teknologi informasi dan komunikasi, jejaring web, memanfaatkan e-learning, web online, blog, dan sebagainya.
  2. Pembelajaran campuran (hybrid learning), memadukan pembelajaran tatap muka di kelas dengan pembelajaran secara online. Model ini mengurangi aktivitas tatap muka di kelas sebagai akibat pengurangan aktivitas tatap muka dialihkan kedalam model pembelajaran secara online dengan memanfaatkan TIK.
Salah satu hal yang menarik dengan penerapan model pembelajaran kombinasi (blended learning) adalah tercapainya tujuan pembelajaran secara efisien dan efektif karena kedua model memiliki keunggulan masing-masing. Model pembelajaran tatap muka dengan metode konvensional memungkinkan pembelajaran berlangsung secara interaktif dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi serta metode pembelajaran sedangkan dengan metode online dapat memberikan materi secara online tanpa batasan ruang dan waktu, selain itu peserta didik lebih banyak memperoleh dan mengolah informasi dari berbagai sumber sehingga hal ini dapat menunjang proses pembelajaran.

Teori Gestalt tentang Pembelajaran

Salah satu model pembelajaran secara teoritis  yang dikemukakan oleh Joce & Weil adalah model interaksi sosial, model  interaksi sosial didasari oleh teori Gestalt (Field Theory) yang menitikberatkan hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat

Pokok pandangan Gestalt adalah objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan, artinya suatu objek atau peristiwa dipandang secara keseluruhan (Gestalt) dan bukan dipandang secara terpisah-pisah atau bagian-bagiannya.

Penggunaan pola warna dan arah panah membuat otak mengelompokkan kotak merah  terpisah dari kotak biru, walaupun sebenarnya memiliki bentuk identik

Teori Pembelajaran Gestalt pertama kali dirintis oleh Max Wertheimer, Kurt Koffka, dan W. Kohler (1912) melalui sebuah eksperimen dengan memproyeksikan titik-titik cahaya. Teori Gestalt memiliki kecenderungan atau berupaya untuk mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian yang kecil.

Berikut ini penerapan teori Gestalt dalam pembelajaran:

  1. Pengalaman atau Wawasan, dalam proses pembelajaran siswa dianggap memiliki wawasan atau pengalaman, sehingga siswa mampu mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek pembelajaran. Untuk itu, guru hendaknya mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan pengalaman dan wawasannya.
  2. Pembelajaran yang Bermakna, perbedaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu objek  akan menunjang pembentukan pemahaman  dalam proses pembelajaran.
  3. Perilaku, perilaku berkaitan dengan Stimulus - Respon (SR)  yang mengarah pada suatu tujuan yang hendak dicapai. Pembelajaran terjadi karena siswa memiliki harapan tertentu, oleh karena itu pembelajaran akan berhasil bila siswa mengetahui tujuan yang akan dicapai.
  4. Prinsip Ruang  Hidup, perilaku siswa selalui terkait dengan lingkungan sekitarnya sehingga content materi ajar yang disampaikan hendaknya  memiliki kaitan dengan situasi lingkungan di mana siswa berada (pembelajaran kontekstual)

Friday, January 30, 2015

Pengertian Model Pembelajaran

Implementasi kegiatan pembelajaran mengenal banyak istilah yang memberikan gambaran cara mengajar yang akan dilakukan oleh seorang guru. Isitilah-istilah seperti model, pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik adalah istilah yang sangat familiar. Namun terkadang istilah-istilah tersebut membuat bingung, selain itu para ahli juga memiliki makna yang berbeda-beda terhadap istilah-istilah tersebut.

Agar tidak membuat bingung dengan istilah-istilah di atas, maka perlu didefinisikan dengan baik dan benar sehingga tidak memiliki pemaknaan yang berbeda, seperti yang diungkapkan oleh beberapa ahli.
  1. Pendekatan
    Pendekatan dapat diartikan sebagai sudut pandang seorang guru terhadap proses pembelajaran, atau dapat diartikan sebagai cara pandang seorang guru tentang bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh Roy Kellen (1998) membagi pendekatan kedalam dua kelompok, yaitu:

    • Pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered approaches), artinya guru lebih dominan dalam pembelajaran atau menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber informasi/pengetahuan. Selain itu, guru menerapkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori
    • Pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approaches), artinya siswa lebih memiliki aktivitas pembelajaran yang lebih baik, hal ini karena pendekatan berpusat pada siswa guru menerapkan strategi pembelajaran inkuiri, diskoveri atau pembelajaran induktif. Pendekatan yang berpusat pada siswa  bertujuan agar siswa lebih aktif mencari sumber-sumber belajar dari berbagai sumber seperti guru, perpustakaan, lingkungan, orang tua, masyarakat, internet dan sebagainya.

  2. Strategi
    Oleh Kemp (1995) mendefinisikan strategi sebagai suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan oleh guru dan siswa sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Sedangkan J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan, dan oleh Dick & Carey (1985) menyebut strategi pembelajaran sebagai suatu perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama. Dari definisi yang diajukan oleh ahli tersebut dapat diartikan bahwa strategi pembelajaran masih bersifat konseptual (konsep perencanaan dan prosedur pembelajaran), sehingga untuk mencapai tujuan yang ditetapkan pada strategi pembelajaran diperlukan implementasi nyata dalam hal ini adalah metode pembelajaran.

  3. Metode
    Metode diartikan sebagai cara yang dilakukan untuk melaksanakan strategi. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: 1) ceramah, 2) demonstrasi, 3) diskusi, 4) simulasi, 5) praktik, 6) pengalaman lapangan, 7) brainstorming, 8) debat, 9) simposium, dan sebagainya.

  4. Teknik & Taktik
    Teknik diartikan sebagai cara yang dilakukan seorang guru dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik dan unik, sedangkan taktik diartikan gaya seorang guru dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan cara pandang guru (pendekatan) terhadap proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, kemudian penyusunan strategi, pemilihan metode pembelajaran untuk menjalankan strategi, serta penerapan teknik dan taktik untuk mencapai tujuan pembelajaran merupakan satu rangkaian yang utuh yang disebut sebagai model pembelajaran. hal ini disampaikan oleh Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas.


Dari definisi oleh Joyce & Weil tersebut menunjukkan model pembelajaran disusun berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, teori-teori psikologis, sosiologi, analisis sistem dan teori-teori lain yang mendukung. Masih menurut Joce & Weil terdapat 4 kelompok model pembelajaran, yaitu: 1) model interaksi sosial, 2) model pengolahan informasi, 3) model personal-humanistik, dan 4) model modifikasi tingkah laku.

Namun, dalam implementasinya model pembelajaran banyak digunakan untuk capaian pembelajaran jangka pendek, hal ini dapat dilakukan karena memang model pembelajaran  juga dapat digunakan untuk membimbing pembelajaran di kelas.

Tuesday, January 13, 2015

Diskusi LPTK

Membangun budaya akademik melalui proses pembelajaran berbasis riset yang memiliki pola kerja sistematik dan terstruktur akan menciptakan pembelajar yang berkarakter bukan pembelajar 'perguruan jalanan'.

Tercapainya pernyataan di atas perlu peningkatan kerjasama LPTK dalam rangka penyiapan dan pengembangan calon/guru yang inspiratif dan profesional. Sehingga tercipa Guru profesional yang sejahtera dan mengembangkan diri secara sadar.

Guru profesional adalah guru yang kemampuan untuk menganggarkan kesejahteraannya untuk meningkatkan keprofesionalannya.

Catatan: Provincial Consortia Meeting LPTK 14.01.2015

Provincial Consortia Meeting III

Provincial Consortia Meeting III merupakan kegiatan utamanya adalah seminar pararel oleh beberapa perguruan tinggi, untuk tahap III ini sebagai pembicara utama adalah Rektor Unismuh Makassar, Rektor Umpar Parapare, dan Rektor Uncok Palopo.








Sunday, December 14, 2014

Training Pedagody Lectures & TTI Lab Schools

Universitas Muhammadiyah Makassar bekerja sama dengan pihak USAID Prioritas Sulawesi Selatan melaksanakan program Training Pedagogy Lectures And TTI Lab Schools: Junior Secendary (Kombinasi Modul 1 dan 2), kegiatan ini berlangsung di Mini Hall FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.


Program Training Pedagogy Lectures And TTI Lab Schools ini berlangsung dari tanggal 11 sampai dengan 13 Desember 2014. Kegiatan ini sendiri dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I, Dr. H. Abd. Rahman Rahim, MM. Kegiatan pembukaan diawali dengan pengajian yang disampaikan oleh Kyai H. Iskandar Tompo yang menjabat sebagai sektetaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Makassar.

Selanjutnya secara berturut-turut sambutan disampaikan oleh Wakil Dekan I FKIP Khaeruddin, S.Pd., M.Pd., Koordinator USAID Prioritas Sulsel Jamaruddin, Dekan FKIP  Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum dan sambutan diakhir oleh Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Makassar Dr. Abd. Rahman Rahim, MM.


Program Training Pedagogy Lectures And TTI Lab Schools: Junior Secendary (Kombinasi Modul 1 dan 2), diikuti oleh Dosen dalam lingkup FKIP Unismuh Makassar serta guru dari beberapa sekolah yang merupakan partner FKIP dalam beberapa program seperti PPL dan P2K. Jumlah peserta dari dosen FKIP sebanyak 26 orang serta guru sebanyak 40 orang, bahkan dalam kegiatan ini juga dihadiri oleh guru yang berasal MTs Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Pinrang.


Tujuan dari kegiatan ini antara lain: 1) Agar peserta yang merupakan dosen PGSMP/PGMTs TTI Consortia dan guru dari sekolah Lab & Mitra Universitas Muhammadiyah Makassar/Unismuh memahami pemanfaatan bahan-layanan (Modul I dan modul 2) yang dikembangkan oleh tim proyek dan sudah dilaksanakan di LPTK Mitra, 2) Untuk memastikan peserta memahami praktek yang baik dalam pembelajaran Aktif/Kontekstual, 3)   Memberikan pengalaman bagi para dosen dan guru untuk mengembangkan RPP dan melaksanakan praktek mengajar, 4)   Agar dosen yang telah dilatih dapat mengaplikasikan pembelajaran aktif dalam perkuliahan & memberikan contoh yang efektif dari praktik yang baik kepada mahasiswa PPL, dan 5)   Agar guru yang telah dilatih dapat mengaplikasikan pembelajaran aktif dalam pembelajaran di sekolah masing-masing sehingga dapat memberikan contoh yang efektif dari praktik yang baik kepada mahasiswa PPL Unismuh.


Kegiatan berlangsung sesuai rencana selain dengan dukungan pihak Universitas dan Fakultas yang bekerjasama dengan USAID Prioritas Sulawesi Selatan juga susunan kegiatan diatur dengan mekanisme pembelajaran yang ditata dengan baik, yaitu: 1 Apa dan Mengapa Pembelajaran Kontekstual/Pembelajaran Aktif, unit 2 Pembelajaran Kooperatif, Unit 3 Mengelola Pembelajaran secara Efektif, Unit 4 Memahami Kurikulum 2013, unit 5 Melayani Perbedaan Individu dalam Pembelajaran, Unit 6 Pertanyaan dan Lembar Kerja, Unit 7 Penilaian Autentik, unit 8 Literasi Lintas Kurikulum, Unit 9 Persiapan dan Praktik Mengajar, dan unit 10 RTL. DI mana setiap akhir kegiatan diadakan refleksi pelaksanaan pelatihan.


Pada hari ketiga dilaksanakan praktik mengajar yang baik, untuk kegiatan ini berlangsung pada dua lokasi sekolah, yaitu MTs. Mu'allimin Muhammadiyah Makassar serta SMP Unismuh Makassar.


Kegiatan ini sendiri ditutup oleh Wakil Dekan I Khaeruddin, S.Pd., M.Pd., acara penutupan juga dihadiri oleh Koordinator USAID Priortas Sulawesi Selatan serta para Wakil  Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.

Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Pembukaan Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Aktivitas peserta dalam pembelajaran 

Aktivitas peserta dalam pembelajaran 

Suasana pembelajaran

Penutupan Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Foto bersama pelaksanaan  Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Foto bersama Dosen peserta Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Foto bersama Dosen peserta Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Foto bersama Guru peserta Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Foto bersama Guru peserta Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Foto bersama Guru peserta Training Pedagogy Lectures & TTI Lab/Partner Schools

Friday, November 14, 2014

Team Teching | bagian 1

1. Pengantar
Kecenderungan kita selama ini dalam pembelajaran yang digunakan pada semua jenjang pendidikan dilakukan secara individu. Hampir semua dilakukan sendiri-sendiri, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan penilaian pembelajaran peserta didik.

Kemudian kita diperhadapkan pada penerapan kurikulum 2013, yang pada akhirnya kita tersentak dan sadar akan banyaknya perubahan yang mesti kita lakukan dan kemudian ini adalah masalah umum terkait dengan penerapan kurikulum 2013, seperti yang diungkapkan oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKMP3), Agnes Tuti Rumiati, dalam Dialog dan Konsultasi Nasional terkait Kurikulum 2013. Dia menyebut, terdapat banyak hal yang belum dipahami tenaga pendidik terkait kurikulum 2013, antara lain:

  1. Proses penilaian yang dianggap rumit, banyak yang belum paham dalam memberikan penilaian dalam implementasi kurikulum 2013
  2. Para guru masih kesulitan menerapkan scientific approach dalam kegiatan belajar mengajar, yakni mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring.
  3. Membuat siswa aktif, sebab, dalam kurikulum 2013, guru harus pintar menjadi fasilitator agar siswa bertanya
Permasalahan-permasalahan di atas dapat diatasi dengan cara menerapkan pembelajaran kerjasama antar guru atau yang diistilahkan dengan team teaching. Pembelajaran tim (team teaching) bukan hal yang baru di Indonesia. Namun di negeri ini praktik pengajaran tim dapat dibilang memang masih sangat langka. Kerja sama guru dalam pelaksanaan pengajaran tim sangat diharapkan dapat dilaksanakan dalam penerapan Kurikulum 2013.

2. Pengertian Team Teaching
Team Teaching menurut Quin dam Kamter (1984) mendefinisikan pengajaran tim sebagai “simply team works between two qualitied instructors who together make prensentarions to an audience” [Pengajaran tim sebagai kerja tim sederhana antara dua orang pengajar yang berkualifikasi yang membuat presentasi untuk peserta didik].

Sedangkan menurut Karin Goetz menyebutnya sebagai “as a group of two or more teachers working together to plan, conduct and evaluate the learning activities for the sama group of learners” [Pengajaran tim adalah pembelajaran yang dilaksanakan satu kelompok guru. Dalam pembelajaran ini sekelompok guru melakukan kerja sama dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai hasil pembelajara terhadap kelompok peserta didik yang sama].

Dari pendapat di atas dapat dimaknai bahwa pembelajaran tim adalah pembelajaran yang dilakukan oleh lebih dari satu orang guru, dimana satu sama lain saling melengkapi untuk memenuhi tujuan pembelajaran yang diinginkan, sehingga akan lebih mudah untuk melakukan pembelajaran pada siswa dan suasana kelas akan lebih terkontrol. Hal disebabkan karena setiap guru melaksanakan tugasnya masing-masing. Jika salah satu guru melakukan kesalahan dalam menyampaikan materi atau ada sesuatu yang kurang dalam menjelaskan materi maka guru yang lain dapat membenarkan kesalahan atau menambahkan kekurangan tersebut. Bahkan diakhir setiap periode pembelajaran dapat melakukan kegiatan refleksi terhadap kelebihan dan kekurangan pembelajaran yang telah berlangsung.

Bentuk pelaksanaan pembelajaran tim dapat dikelompokkan pada 2 model, yaitu:
  1. Dua guru atau lebih mengajar pada waktu, peserta didik dan kelas yang sama
  2. Dua guru atau lebih mengajar pada peserta didik dan kelas yang sama, namun waktu mengajar yang berbeda.
Tulisan selanjutnya menyusul Team Teaching | bagian 2

Thursday, November 13, 2014

Inovasi dalam Pembelajaran

Proses Belajar Mengajar atau disingkat dengan istilah PBM, sebuah istilah yang cukup familiar dalam dunia pendidikan, kemudian istilah tersebut berubah menjadi Pembelajaran pada beberapa tahun terakhir ini. Istilah PBM dan Pembelajaran sebuah istilah yang berbeda tetapi memiliki makna yang sama atau disamakan maknanya.

Pergeseran istilah dari proses belajar mengajar (PBM), belajar, mengajar,  ke pembelajaran merupakan dampak (salah satunya) adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang banyak mendorong dan mengilhami terhadap inovasi di bidang model-model pembelajaran.

Inovasi pembelajaran diartikan sebagai suatu ide atau metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang/masyarakat baik berupa hasil invensi atau diskoveri yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran atau untuk memecahkan masalah-masalah dalam pembelajaran.

Ada beberapa anggapan bahwa inovasi pembelajaran lebih banyak dipengaruhi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, hal ini tidak dapat dibenarakan sepenuhnya karena inovasi pembelajaran bukan hanya hal-hal yang terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi. Bahkan jauh sebelum perkembangan TIK sepesat ini, inovasi pembelajaran sudah jauh berlangsung, seperti yang dilakukan oleh Bobby DePorter pada tahun 1992 melalui inovasi pembelajaran  kuantum, inovasi pembelajaran kompetensi yang beranggapan bahwa pengetahuan dalam kepala siswa tidaklah kosong, inovasi pembelajaran konstektual sebuah pendekatan yang menonjolkan keaktifan siswa dalam melakukan sesuatu.

Sedangkan inovasi pembelajaran kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berorientasi pada pemanfaatan jaringan internet dan aplikasi teknologi itu sendiri.

Pertanyannya, sudahkan inovasi itu kita lakukan  dalam pembelajaran?





Visitasi Sosiologi

Setelah visitasi akreditasi program studi PGSD, kemudian program studi Pendidikan Fisika, dan yang baru terlewatkan program studi Teknologi Pendidikan pada lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Maka tepat pada hari kamis sampai dengan Jumat (14-15 November 2014) giliran program studi Pendidikan Sosiologi yang divisitasi akreditasi oleh tim asesor BAN-PT.







Wednesday, November 12, 2014

Memahami Strategi Pembelajaran

Atmosfer dunia pendidikan di Indonesia semakin mengalami perubahan, perubahan ini sebagiab besar dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Akibatnya, tantangan yang dihadapi oleh para penggeliat pendidikan semakin besar.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini memberikan dampak yang baik dan tentunya juga dampak yang kurang baik bagi dunia pendidikan terutama jika menyangkut tentang penyalahgunaan yang terjadi di lingkungan peserta didik. Karenanya dalam proses pembelajaran di sekolah seorang tenaga pendidik haruslah aktif dalam mengikuti perkembangan  teknologi informasi dan komunikasi dan kemudian memikirkan strategi pembelajaran yang baik untuk peserta didiknya.

Strategi dalam kegiatan pembelajaran dapat diartikan secara sempit yaitu cara yang dilakukan dalam pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri, sedangkan dalam arti luas strategi pembelajaran menurut Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmum, 2003) mengartikan strategi pembelajaran sebagai  diartikan sebagai berikut:
  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. 
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling  efektif untuk mencapai sasaran. 
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan ditempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. 
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. 
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: 
    • Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 
    • Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 
    • Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. 
    • Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. 

    Sedangkan menurut Dick dan Carey (1985) menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar siswa.

    Lain halnya oleh Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. 

    Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu di perhatikan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada 3 jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni: 
    1. Strategi pengorganisasian pembelajaran,
    2. Strategi penyampaian pembelajaran, 
    3. Strategi pengelolaan pembelajaran. 

    Monday, November 10, 2014

    Media Sosial Mengubah Tren Membaca Berita

    Hadirnya sosial media juga ikut mengubah tatanan jurnalistik di Indonesia. Bila dulu orang gemar membaca buku dan media cetak untuk memperoleh informasi, maka tren itu berubah seiring kian mudahnya mendapatkan berita di internet.

    Hal tersebut dapat dibuktikan dengan jumlah oplah di berbagai media cetak yang semakin menurun. Sementara, minat membaca masyarakat terhadap media online yang dipicu sosial media justru semakin meningkat.

    "Orang-orang saat ini lebih memilih untuk membaca sebuah informasi melalui media sosial, seperti Twitter dan Facebook ketimbang koran dan sebagainya," ucap Arifin Asydhad, Pemimpin Redaksi detikcom dalam acara PR Corner di kampus London School, Jakarta, Senin (10/11/2014).

    Pergeseran tren tersebut tak lain karena perkembangan teknologi yang tumbuh semakin pesat di Indonesia. "Masyarakat saat ini lebih banyak berinteraksi dengan gadgetnya ketimbang membaca. Karena semua informasi kini telah tersedia di dunia maya," lanjut Arifin.

    Menurut Nukman Luthfie, Social Media Expert, pergeseran tren membaca media juga disebabkan oleh perubahaan kebiasaan masyarakat Indonesia itu sendiri.

    "Indonesia menjadi negara kedua terbesar menggunakan SMS di Asia setelah Filipina. Ini artinya masyarakat kita lebih gemar cuap-cuap ketimbang membaca," papar Nukman yang turut menjadi narasumber dalam acara ini.

    sumber: detik.com

    Monday, November 3, 2014

    Training TTI Pedagogy Lecturers

    USAID Prioritas mengadakan kegiatan Training TTI Pedagogy Lecturers yang berlangsung selama 3 hari, 2 - 4 November 2014 bertempat di Hotel Delima Sari Parepare.

    Pembukaan

     Aktivitas pembelajaran

     Persiapan praktik lapangan

    Refleksi

    Penutupan

    Sunday, October 26, 2014

    Selamat Hari Blogger Nasional!

    Selain akan mempunyai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) baru, hari ini, Senin (27/10/2014), Indonesia juga mempunyai peristiwa yang tak kalah penting. Hari Blogger Nasional. Bila menelisik ke belakang, peringatan Hari Blogger pertama kali dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan informatika (Menkominfo) yang menjabat kala itu, Mohammad Nuh, ketika hadir dalam Pesta Blogger 2007.

    Pesta Blogger yang berlangsung di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Sabtu 27 Oktober 2007 silam itu awalnya digelar sebagai ajang kopi darat (kopdar) blogger nasional untuk pertama kalinya.

    Tanpa ada yang menduga sebelumnya, Mohammad Nuh yang hadir memberikan pembukaan secara spontan mengukuhkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. "Hari ini saya nyatakan sebagai Hari Blogger Nasional!" kata Nuh ketika pembukaan Pesta Blogger pertama kali.

    Ucapan Nuh di atas panggung itu sontak disambut dengan tepuk tangan meriah dari sekitar 500 blogger, tamu undangan, dan awak media yang hadir.

    Menurut Nuh, deklarasi tersebut dirasa sangat tepat dengan momentum berkumpulnya para blogger seluruh Indonesia.

    "Momentumnya sangat tepat untuk mendeklarasikan hari ini sebagai hari blogger nasional. Sebelumnya hal ini belum direncanakan sama sekali," ujarnya kepada wartawan setelah memberi sambutan.

    Maka, sejak saat itulah setiap 27 Oktober, blogger Indonesia memperingatinya sebagai Hari Blogger Nasional. 

    Pesta Blogger yang pertama digelar di tahun 2007 pun rutin dilakukan, hingga akhirnya di tahun 2011 kegiatan ini berubah nama menjadi On|Off.

    Tak sekadar berubah nama, konsep yang diusungnya juga berubah. Bila Pesta Blogger hanya berfokus kepada ajang kopi darat para blogger di Indonesia saja, maka pada acara On|Off para blogger mulai diajak untuk mengelola blognya agar lebih serius dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Nuansa bisnis mulai terasa dalam kegiatan ini.

    Namun siapa sangka pergantian nama tersebut justru membuat kegiatan ini bisa dikatakan menjadi mati suri. Kegiatan On|Off nyatanya hanya berlangsung di tahun 2011. Di tahun berikutnya kegiatan ini sama sekali tak terdengar gaungnya, sampai sekarang.