Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts

Friday, November 14, 2014

Team Teching | bagian 1

1. Pengantar
Kecenderungan kita selama ini dalam pembelajaran yang digunakan pada semua jenjang pendidikan dilakukan secara individu. Hampir semua dilakukan sendiri-sendiri, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan penilaian pembelajaran peserta didik.

Kemudian kita diperhadapkan pada penerapan kurikulum 2013, yang pada akhirnya kita tersentak dan sadar akan banyaknya perubahan yang mesti kita lakukan dan kemudian ini adalah masalah umum terkait dengan penerapan kurikulum 2013, seperti yang diungkapkan oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKMP3), Agnes Tuti Rumiati, dalam Dialog dan Konsultasi Nasional terkait Kurikulum 2013. Dia menyebut, terdapat banyak hal yang belum dipahami tenaga pendidik terkait kurikulum 2013, antara lain:

  1. Proses penilaian yang dianggap rumit, banyak yang belum paham dalam memberikan penilaian dalam implementasi kurikulum 2013
  2. Para guru masih kesulitan menerapkan scientific approach dalam kegiatan belajar mengajar, yakni mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring.
  3. Membuat siswa aktif, sebab, dalam kurikulum 2013, guru harus pintar menjadi fasilitator agar siswa bertanya
Permasalahan-permasalahan di atas dapat diatasi dengan cara menerapkan pembelajaran kerjasama antar guru atau yang diistilahkan dengan team teaching. Pembelajaran tim (team teaching) bukan hal yang baru di Indonesia. Namun di negeri ini praktik pengajaran tim dapat dibilang memang masih sangat langka. Kerja sama guru dalam pelaksanaan pengajaran tim sangat diharapkan dapat dilaksanakan dalam penerapan Kurikulum 2013.

2. Pengertian Team Teaching
Team Teaching menurut Quin dam Kamter (1984) mendefinisikan pengajaran tim sebagai “simply team works between two qualitied instructors who together make prensentarions to an audience” [Pengajaran tim sebagai kerja tim sederhana antara dua orang pengajar yang berkualifikasi yang membuat presentasi untuk peserta didik].

Sedangkan menurut Karin Goetz menyebutnya sebagai “as a group of two or more teachers working together to plan, conduct and evaluate the learning activities for the sama group of learners” [Pengajaran tim adalah pembelajaran yang dilaksanakan satu kelompok guru. Dalam pembelajaran ini sekelompok guru melakukan kerja sama dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai hasil pembelajara terhadap kelompok peserta didik yang sama].

Dari pendapat di atas dapat dimaknai bahwa pembelajaran tim adalah pembelajaran yang dilakukan oleh lebih dari satu orang guru, dimana satu sama lain saling melengkapi untuk memenuhi tujuan pembelajaran yang diinginkan, sehingga akan lebih mudah untuk melakukan pembelajaran pada siswa dan suasana kelas akan lebih terkontrol. Hal disebabkan karena setiap guru melaksanakan tugasnya masing-masing. Jika salah satu guru melakukan kesalahan dalam menyampaikan materi atau ada sesuatu yang kurang dalam menjelaskan materi maka guru yang lain dapat membenarkan kesalahan atau menambahkan kekurangan tersebut. Bahkan diakhir setiap periode pembelajaran dapat melakukan kegiatan refleksi terhadap kelebihan dan kekurangan pembelajaran yang telah berlangsung.

Bentuk pelaksanaan pembelajaran tim dapat dikelompokkan pada 2 model, yaitu:
  1. Dua guru atau lebih mengajar pada waktu, peserta didik dan kelas yang sama
  2. Dua guru atau lebih mengajar pada peserta didik dan kelas yang sama, namun waktu mengajar yang berbeda.
Tulisan selanjutnya menyusul Team Teaching | bagian 2

Wednesday, November 12, 2014

Memahami Strategi Pembelajaran

Atmosfer dunia pendidikan di Indonesia semakin mengalami perubahan, perubahan ini sebagiab besar dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Akibatnya, tantangan yang dihadapi oleh para penggeliat pendidikan semakin besar.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini memberikan dampak yang baik dan tentunya juga dampak yang kurang baik bagi dunia pendidikan terutama jika menyangkut tentang penyalahgunaan yang terjadi di lingkungan peserta didik. Karenanya dalam proses pembelajaran di sekolah seorang tenaga pendidik haruslah aktif dalam mengikuti perkembangan  teknologi informasi dan komunikasi dan kemudian memikirkan strategi pembelajaran yang baik untuk peserta didiknya.

Strategi dalam kegiatan pembelajaran dapat diartikan secara sempit yaitu cara yang dilakukan dalam pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri, sedangkan dalam arti luas strategi pembelajaran menurut Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmum, 2003) mengartikan strategi pembelajaran sebagai  diartikan sebagai berikut:
  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. 
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling  efektif untuk mencapai sasaran. 
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan ditempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. 
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. 
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: 
    • Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 
    • Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 
    • Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. 
    • Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. 

    Sedangkan menurut Dick dan Carey (1985) menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar siswa.

    Lain halnya oleh Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. 

    Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu di perhatikan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada 3 jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni: 
    1. Strategi pengorganisasian pembelajaran,
    2. Strategi penyampaian pembelajaran, 
    3. Strategi pengelolaan pembelajaran. 

    Thursday, October 9, 2014

    Landasan Teoritis Media dalam Pembelajaran

    Media Pembelajaran memiliki beberapa landasan teoritis yang kuat dalam sistem pembelajaran, diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Teori Psikologis Brurner
    Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, diantaranya yaitu:

    1. Tahap pengalaman langsung (Eractive), merupakan tahap individu berupa memahami lingkungan dengan beraktifitas.
    2. Tahap Pictoria (Ekonit), tahap individu melihat dunia melalui gambar dan menvisualisasi verbal.
    3. Tahap simbolik, tahap dimana individu mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika berpikirnya.
    2. Teori Behavourisme
    Teori behavourisme atau teori tingkah laku ini menganggap bahwa segala kejadian dilingkungan sangat mempengaruhi perilaku seseorang dan akan memberikan pengalaman tertentu dalam dirinya, dan teori ini menganggap perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigma S-R(stimulus respon) yaitu suatu proses yang memberikan respon tertentu terhadap apa yang datang dari luar diri individu.

    3. Teori Kerucut Pengalaman Edgar Dale
    Kerucut pengalaman ini merupakan salah satu gambaran yang dijadikan landasan teori dalam penggunaan media pembelajaran selain dari ketiga tahap pengalaman Bruner.
    Edgar Dale mengklasifikasikan pengalaman belajar anak mulai dari hal-hal yang dianggap paling abstrak. Klasifikasi pengalaman tersebut lebih dikenal dengan-kerucut pengalaman, yang terdiri dari 11 macam klasifiksi media pengajaran seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini:


    Penggunaan media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar yang digunakan secara sistematis dalam kegiatan pembelajaran juga dapat memberikan interaksi antara pengalaman baru dan pengalaman sebelumnya, sehingga terjadi perubahan pada anak didik.

    Pemerolehan pengetahuan, perubahan sikap dan ketrampilan dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Tingkat pemerolehan hasil belajar seperti yang digambarkan oleh Dale (1969) sebagai proses komunikasi.

    Proses pembelajaran dapat berhasil-dengan baik apabila siswa diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Semakin benyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dipahami serta dipertahankan dalam ingatan.

    Perbandingan pemerolehan hasil belajar melalui indera pandang dan indera dengar sangat menonjol perbedaannya. Kurang lebih 80% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indera pandang, dan hanya 15% diperoleh melalui indera dengar dan 5% lagi dari indera yang lainnya.

    Wednesday, October 8, 2014

    Quipper School

    Secara pribadi saya ingin mengatakan bahwa perkembangan teknologi dengan beberapa aplikasinya sudah begitu super cepat, aplikasi yang masih dalam angan-angan dan harapan ternyata sudah ada, bahkan jauh sebelumnya sudah digunakan ditempat lain dibelahan dunia ini. Begitupun dengan aplikasi yang terkait untuk dunia pendidikan, sekarang seorang pendidik  dapat dengan mudah mencari media yang tepat untuk dijadikan alat atau fasilitas belajar peserta didiknya. Akhirnya, ternyata belajar dalam era digital sangat memudahkan, tinggal bagaimana kita mengemasnya menjadi suasana belajar yang menyenangkan, menantang dan mencapai target yang diharapkan sesuai kurikulum.

    Bagi seorang peserta didik sukup dengan smartphone yang murah meriah dia dengan sigap mengikuti pembelajaran baik di kelas maupun dalam bentuk virtual class. Prinsipnya belajar menjadi mudah dengan kemajuan teknologi digital. Tanpa mengenyampingkan peran pendidik sebagai fasilitator, media berbasis internet ini memberikan kemudahan siswa dalam belajar. Dikemas dengan menu-menu yang lumayan lengkap dan menarik, siswa diharapkan tidak bosan mempelajari materi yang ditugaskan guru.

    Yang terbaru [versi saya]: Quipper School merupakan layanan e-learning gratis yang diciptakan demi
    mempermudah tugas dan menghemat waktu para pendidik, khususnya dalam hal pemberian tugas / PR / latihan soal, bahkan ujian di kelas kepada peserta didik. Quipper School  menyediakan materi pelajaran dan soal, terdiri atas ribuan topik untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA (Biologi, Fisika, Kimia), dan IPS (Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi-Akuntansi), kelas X, XI, dan XII.

    Melalui Quipper School, seorang pendidik juga dapat:
    1. Memantau kegiatan belajar para siswa (nilai tugas / PR siswa)
    2. Melihat analisa data/grafik perkembangan siswa
    3. Melihat analisa topik mana yang sudah atau belum dikuasai oleh siswa
    4. Mengirimkan pesan pribadi / menanggapi pertanyaan siswa
    5. Membuat pengumuman untuk siswa
    6. Mencetak (print) hasil nilai siswa
    Selanjutnya, “Quipper School” dibagai menjadi 2, yaitu:
    1. Q-Link (untuk guru)  https://link.quipperschool.com/id 
    2. Q-Learn (untuk siswa) https://learn.quipperschool.com/signup
    Secara umum, Quipper School juga bisa diakses melalui perangkat PC, laptop, tablet ataupun HP, secara online, di mana sangat praktis dan mudah digunakan.

    Tuesday, October 7, 2014

    Pembelajaran sebagai Proses Komunikasi

    Menurut Kamus Besar Indonesia, pembelajaran didefinisikan sebagai proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangan oleh para ahli pembelajaran didefinisikan sebagai berikut:
    1. Knowles, Pembelajaran adalah cara pengorganisasian peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan,
    2. Slavin, Pembelajaran didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku individu yang disebabkan oleh pengalaman,
    3. Woolfolk, Pembelajaran berlaku apabila sesuatu pengalaman secara relatifnya menghasilkan perubahan kekal dalam pengetahuan dan tingkah laku,
    4. Crow & Crow, Pembelajaran adalah pemerolehan tabiat, pengetahuan dan sikap,
    5. Rahil Mahyuddin, Pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang melibatkan ketrampilan kognitif yaitu penguasaan ilmu dan perkembangan kemahiran intelek,
    6. Achjar Chalil, Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar, 
    7. Corey, Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus, 
    8. G. A. Kimble, Pembelajaran merupakan perubahan kekal secara relatif dalam keupayaan kelakuan akibat latihan yang diperkukuh, 
    9. Munif Chatib, Pembelajaran adalah proses transfer ilmu dua arah, antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi
    Jadi, pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu peserta didik sebagai pembelajar dan guru sebagai pendidik.

    Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

    Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

    Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

    Yang terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah terjadinya proses belajar (learning process). Sebab sesuatu dikatakan hasil belajar kalau memenuhi beberapa ciri berikut:

    1. Belajar sifatnya disadari, dalam hal ini siswa merasa bahwa dirinya sedang belajar, timbul dalam dirinya motivasi-motivasi untuk memiliki pengetahuan yang diharapkan sehingga tahapan-tahapan dalam belajar sampai pengetahuan itu dimiliki secara permanen (retensi) betul-betul disadari sepenuhnya.
    2. Hasil belajar diperoleh dengan adanya proses, dalam hal ini pengetahuan diperoleh tidak secara spontanitas, instant, namun bertahap (sequensial). Seorang anak bisa membaca tentu tidak diperoleh hanya dalam waktu sesaat namun berproses cukup lama, kemampuan membaca diawali dengan kemampuan mengeja, mengenal huruf, kata dan kalimat. Seseorang yang tiba-tiba memiliki kecakapan seperti lari dengan kecepatan tinggi karena akibat doping, bukanlah hasil dari kegiatan belajar, namun efek dari obat atau zat kimia yang dikonsumsinya.
    3. Belajar membutuhkan interaksi, khususnya interaksi yang sifatnya manusiawi. Seorang siswa akan lebih cepat memiliki pengetahuan karena bantuan dari guru, pelatih ataupun instruktur. Dalam hal ini terjadi komunikasi dua arah antara siswa dan guru.
    Kaitannya bahwa belajar membutuhkan interaksi, hal ini menunjukan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, artinya didalamnya terjadi proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima pesan), Kemp (1975:15) menggambarkan proses komunikasi (gambar dimodifikasi), sebagai berikut:


    Pesan yang dikirimkan biasanya berupa informasi atau keterangan dari pengirim (sumber) pesan. Pesan tersebut diubah dalam bentuk sandi-sandi atau lambang-lambang seperti kata-kata, bunyi-bunyi, gambar dan sebagainya. Suara, media internet,  radio, televisi, proyektor, film. Kemudian pesan diterima oleh si penerima pesan melalui indera (mata dan telinga) untuk diolah, sehingga pesan yang disampaikan oleh penyampai pesan dapat diterima dan dipahami oleh si penerima pesan.

    Pada prosesnya, pesan dari sumber sampai pada penerima pesan memiliki hambatan dan gangguan, seperti pada gambar berikut ini


    Pesan yang disampaikan oleh komunikator diteruskan oleh saluran atau channel sampai ke komunikan sebagai penerima pesa. Dipahami atau tidaknya sebuah pesan oleh komunikan tergantung dari feed back yang diberikan oleh komunikan. Feedback positif menunjukan bahwa pesan dipahami dengan baik, sebaliknya feedback negatif menunjukan pesan mungkin saja tidak dipahami dengan benar. Untuk membantu penyampaian pesan ini diperlukan saluran berupa media pembelajaran.

    Faktor yang dapat menyebabkan pesan tidak dipahami dengan baik karena adanya noise dan barier atau hambatan dan gangguan, noise ini dapat dialami oleh komunikator, bisa terjadi pada komunikan, pada pesan juga pada channel. Misalnya peserta didik tidak mengerti apa yang dijelaskan guru karena suara bising dari luar kelas, tidak fokus, sedang sakit, berarti gangguan ada pada komunikan, Guru tidak antusias, tidak bergairah dalam mengajar sehingga peserta didik kurang mengerti apa yang diterangkan gurunya karena guru teresebut sedang ada masalah keluarga, hal ini gangguan pada komunikator.

    Diolah dari berbagai sumber

    Sunday, September 28, 2014

    Rencana Pembelajaran Semester

    Berawal dari PEKERTI, antara materi yang dikaji dalam kegiatan tersebut dengan tugas yang harus diselesaikan yang terkahir ini merupakan prasyarat untuk mendapatkan imbalan dokumen [baca, sertifikat] Tulisan ini hanyalah untuk memberikan gambaran bahwa dalam penyusunan perangkat pembelajaran tingkat Pendidikan Tinggi sudah ada perbedaan, perbedaan itu diawali dengan kita menafsirkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 49 Tahun 2014, yang mengatur tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

    Khusus dalam tulisan ini akan menguraikan tentang Rencana Pembelajaran Semester, sebagai salah satu perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Perencanaan proses pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b disusun untuk setiap mata kuliah dan disajikan dalam rencana pembelajaran semester (RPS).

    Rencana pembelajaran semester (RPS) atau istilah lain yang digunakan oleh tiap PT  dikembangkan oleh dosen secara mandiri atau bersama dalam kelompok keahlian suatu bidang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dalam program studi.

    Rencana pembelajaran semester (RPS) atau istilah lain paling sedikit memuat:
    1. Informasi-informasi berikut ini:
      • Nama program studi,
      • Nama mata kuliah,
      • Kode mata kuliah, Semester, sks, Nama dosen pengampuh
    2. Selanjutnya adalah capaian pembelajaran lulusan yang dibebankan pada mata kuliah, capaian pembelajaran yang dimaksud adalah capain yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran satu semester (TIU)
    3. Kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap tahap pembelajaran untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan, tahap pembelajaran yang dimaksud adalah pertemuan atau juga bisa diartikan batasan pokok bahasan, sub pokok bahasan dan seterusnya
    4. Bahan kajian (bahan ajar atau materi ajar) yang terkait dengan kemampuan yang akan dicapai pada poin 3,
    5. Metode pembelajaran yang digunakan,
    6. Waktu yang disediakan untuk mencapai kemampuan pada tiap tahap pembelajaran,
    7. Pengalaman belajar mahasiswa yang diwujudkan dalam deskripsi tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa selama satu semester, pengalaman belajar mahasiswa dikontrol dalam bentuk, sebagai berikut:
      • Kriteria, hal-hal yang menunjukkan kegiatan atau aktivitas pembelajaran mahasiswa
      • Indikator yang mencerminkan pengalaman belajar mahasiswa
      • Bobot penilaian 
    8. Referensi
    Rencana pembelajaran semester (RPS) atau istilah lain wajib ditinjau dan disesuaikan secara berkala dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Format Rencana Pembelajaran Semester (RPS)

    Saturday, September 27, 2014

    Karakteristik Proses Pembelajaran

    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 49 Tahun 2014, tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, khususnya tentang Proses Pembelajaran menitik beratkan tentang pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa.

    Aturan-aturan tersebut tercermin dari uraian-uraiab berikut ini:
    Standar proses pembelajaran merupakan kriteria minimal tentang pelaksanaan pembelajaran pada program studi untuk memperoleh capaian pembelajaran lulusan.
    Standar proses yang dimaksud di atas mencakup:

    • Karakteristik proses pembelajaran,
    • perencanaan proses pembelajaran,
    • pelaksanaan proses pembelajaran, dan
    • beban belajar mahasiswa.

    Khusus mengenai karateristik proses pembelajaran terdiri atas sifat  interaktif,  holistik, integratif, saintifik, kontekstual, tematik, efektif, kolaboratif, dan berpusat pada mahasiswa.

    Berikut uraian ke-9 point yang dimaksud karakteristik proses pembelajaran:

    1. Interaktif sebagaimana dimaksud di atas menyatakan bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih dengan mengutamakan proses interaksi dua arah antara mahasiswa dan dosen.
    2. Holistik sebagaimana dimaksud di atas menyatakan bahwa proses pembelajaran mendorong terbentuknya pola pikir yang komprehensif dan luas dengan menginternalisasi keunggulan dan kearifan lokal maupun nasional.
    3. Integratif dapat dinyatakan  bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang terintegrasi untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan secara keseluruhan dalam satu kesatuan program melalui pendekatan antardisiplin dan multidisiplin.
    4. Saintifik dapat dinyatakan bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang mengutamakan pendekatan ilmiah sehingga tercipta lingkungan akademik yang berdasarkan sistem nilai, norma, dan kaidah ilmu pengetahuan serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan kebangsaan.
    5. Kontekstual dapat dinyatakan  bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan kemampuan menyelesaikan masalah dalam ranah keahliannya.
    6. Tematik dapat dinyatakan  bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik keilmuan program studi dan dikaitkan dengan permasalahan nyata melalui pendekatan transdisiplin.
    7. Efektif dapat dinyatakan  bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih secara berhasil guna dengan mementingkan internalisasi materi secara baik dan benar dalam kurun waktu yang optimum.
    8. Kolaboratif dapat dinyatakan  bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran bersama yang melibatkan interaksi antar individu pembelajar untuk menghasilkan kapitalisasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan
    9. Berpusat pada mahasiswa dapat dinyatakan  bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang mengutamakan pengembangan kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan.